Dreaming Pool

Bayangkan, seorang diri di hadapan kolam renang seluas lapangan basket.
Hanya kamu dan ratusan meter kubik air setenang kaca yang siap menerima loncatan terkonyolmu dan tiada seorangpun yang akan mengeluh oleh cipratannya.
Kamu tidak perlu malu oleh gaya bebasmu yang aneh, toh namanya saja bebas.
Kamu bisa mulai belajar mengapung tanpa ada orang menertawakanmu ketika kamu tenggelam.
Tidak ada seorang pro yang membuatmu minder dengan butterfly stroke-nya.
Tidak perlu khawatir bertabrakan dengan orang lain ketika berenang gaya punggung,..
karena tak ada seorangpun di dalam situ…
kecuali kamu dan ratusan ribu liter air yang tidak akan protes, tidak akan tertawa dan siap menenggelamkanmu kapan saja…
Ini nyata, atau setidaknya pernah menjadi kenyataan sampai pada suatu saat “mimpi” itu terenggut…
♣
Kolam renang ini pernah menjadi tempat favorit akhir pekan saya bersama seorang teman. Letaknya di Ponpes Ihya’ As-Sunnah milik Ustadz Ja’far Umar Thalib, Degolan, Sleman. Tempat ini berada di tengah pedesaan, yang kamu tidak akan menyangka ada kolam renang beratap yang terkesan mewah di sana. Dengan membayar empat ribu perak kami bisa berenang sepuasnya. Hanya kaki keram yang bisa menghentikan kami. Jadwal antara putra dan putri dipisah secara adil. Pakaian renang putra harus tetap menutupi aurat, jadi ngga perlu khawatir melihat orang pake cawet ala franky (huee), pokoknya nyunnah banget deh. Kalo jumat sore kolam ini bisa benar-benar sepi (lihat aja tuh fotonya).
Disini kami bisa praktekkan semua jurus renang yang sudah diajarkan pelatih kami, Michael Phelps dan Captain Jimmy Shea (many thanks guys!).
Hanya mulai bulan puasa lalu hingga sekarang kolam renang itu sudah tidak dibuka lagi untuk umum, tanpa alasan yang jelas dan kami benar-benar kecewa dibuatnya (aspirasi ummat nih). Tidak ada yang bisa menggantikan kolam renang sekeren itu, kecuali kami tajir dan bisa bikin kolam renang pribadi sendiri (all you people say: aamiiin…)
Jalesveva jayamahe!! (^o^)!
“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan yang sia-sia, senda-gurau, dan permainan,kecuali empat (perkara),yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. Thabrani)














asyik ya bisa berenang, kalau sy tdk bisa
jarang bgt kolam renang yg putra putrinya dipisah. klo kolam renang di ponpes sih jangan ditanya. maksudnya kolam renang umum, yg ada juga cuma jam putrinya aja yg dipisah. jadi jamnya dibagi dua: umum dan putri. saya heran kenapa kok nggak sekalian putranya juga dipisah. alasannya, nanti pas jam putra nggak ada yang mau renang…
pengen mbuat kolam renang ntar klo udah berumahtangga….
tapi dipake sendiri, tidak disewakan!!
wah..ditutup yaa..
Wahh.. Keknya seru tuh
Ada kolam yg cetek ga airnya
(ketauan bnget ga bisa renangnya)
asik yagh… klu punya sendiri…
gak usah pusing ada yg ngintipin
wah udah tutup. dlu smpet dtawarin (baca: dpromosiin utk dtg) kfikri alghuroba. blm smpet dateng dah tutup huhu.
tapi di jakarta ada kok,, khusus perempuan heheehheeh.. bukan bwt ikhwn ;p
lha bukannya kalo tenggelam kui ditulungi mas, koq malah diguyu… huhuhu…
berawal dari mimpi, sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, InsyaAllah.
salam kenal ya,
klo blom kesampean bikin kolam renang buat sendiri ya bikin kolam renang buat ikan dulu…
kyahahaha, bawa2 super franky…
tapi emang kerenz tuh kolam renangnya
aq dlu belajar renang di sungai…
tapi koq ga bisa2 ya…?
malah diketawain ma adikku sendiri
huhuhuhu…
berenang,ya? hm..
berkali-kali blaj berenang.. masi blom bs juga saya
Yuk, gawe kolam renang ning kawasan Pogung
Trus sekarang renang dimana fik?
saya tak pandai berenang.
lalu tidak tahu menikmati keseronokan seperti yang dikatakan
urm~
sedihnya
Kereeen….
Sayangnya ga bisa renang saya.
puisinya keren!