Dari Duri ke Masa Lalu… (bagian 1)

sendiri...
Sedikit cerita pengalaman yang belum terlalu lama berselang mungkin bisa mengkatalisasi semangat menulis…

Hari itu di bulan Ramadhan 1428 H

Saya diorder atasan untuk mengerjakan suatu analisis stabilitas kanal. Dia perlu semua hasil analisis untuk menyelidiki kelongsoran kanal ladang minyak di Duri dengan segala variasi ketinggian air dan saturasi tanah. Hal ini memaksaku untuk melakukan ratusan analisis perhari dalam minggu tersebut.

Akhir minggu itu,

Kepenatan, kejenuhan dan insomnia setelah sang atasan menenggelamkanku dalam bertumpuk analisis tidak menghalanginya untuk “menghiasi” penderitaan minggu itu dengan melayangkan pertanyaan:

“Fik, kalo kamu dikirim ke Duri mau ngga?” sambil melewatiku menuju ruang rapat.

Pertanyaan itu begitu spontan, sehingga saya jawab spontan pula

“No thanks Sir! hahaha”, kujawab dengan tawa kering.

Mendengar jawabanku dia hanya tersenyum lalu masuk ke ruang rapat dengan gegas.

Dalam hatiku menggumam “Perasaanku ngga enak nih,… I have a bad feeling about this…”

Ya, perasaan terkadang tidak pernah salah,

pertanyaan si bos tadi ternyata semacam prolog untuk surat jalanku ke Duri.

Singkat cerita, saya dipanggil rapat beberapa menit setelahnya, dan semua jajaran direksi sudah sepakat, bahkan sebelum saya memasuki ruang rapat, untuk segera mengirim saya ke Duri setelah lebaran tahun itu.

Ke Duri untuk menyelesaikan masalah orang lain. Bukan fakta yang menyenangkan untuk mengakhiri pekan…

Malam itu, saya pulang dengan seribu beban. Kalau saja tugas jalan itu diberitahukan ketika kondisi lebih baik, lebih sedikit jenuh dan lelah, mungkin langkah saya tak akan seberat itu. Bayangan tentang terpencilnya kota itu, dan hal-hal negatif lainnya menggelayut di langit-langit kamar kos.

Namun, ada sedikit cahaya temaram di hati,

sedikit menghibur kalbu,

mengenai sebuah fakta tentang Duri,

cahaya itu dari masa lalu….

Kota Duri, terletak di provinsi Riau. Kota ini hanya memiliki dua jalan utama. Sungguh keterlaluan jika anda masih bisa tersesat di kota ini. Kota kecil ini hidup dari ladang minyak yang kini dikuasai korporat asing. Entah sampai kapan kota ini bisa bertahan, mengingat konsesi ladang minyaknya sudah mau habis…

Bersambung...

Iklan

~ oleh Fikri Faris pada 18 Juli 2008.

7 Tanggapan to “Dari Duri ke Masa Lalu… (bagian 1)”

  1. piye toh bosmu kuwi, dibilangin nggak mau eh malah beneran dikirim…
    eh namanya juga bos ya :mrgreen:
    ayo fik semangat ngeblog!!!
    *lg nyebarin candu ngeblog*

  2. Ayo, bangfik….qta nge-blog…
    *keknya mulai terpengaruh masher nih*

  3. “… piye toh bosmu kuwi, dibilangin nggak mau eh malah beneran dikirim…
    eh namanya juga bos ya :mrgreen: ….”

    makanya Her, kalo mo jadi bos harus tegaan (kata lain kejam)…khehkekhe.. cukup kejamkah dikau???

  4. kota Duri krennn banget sekarang……
    mudah-mudahhan bentar lagi bisa jadi kabupaten dehhhh…
    doain yahhhhhh…………….

  5. @dkozzei: iya deh, pokoknya yg terbaik buat rakyatnya, apapun itu

  6. Tapi kebanyakan teman2 kuliah saya yang berasal dari sana statusnya “the have”…

    Indonesia bnr2 harus mandiri, kekayaan alam harusnya kita olah sendiri.
    Bukannya malah dimakan oleh bangsa asing 😦

    ..setuju!.. jangan mo ditipu chevron aja…(ups kesebut deh namanya :P)

  7. lanjutannya kapan>>>?

    kan dah ada lanjutannya mas, bagian 2, coba di cek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: