Dari Duri ke Masa Lalu… (bagian 2, selesai)

Sudah delapan tahun kira-kira, aku meninggalkan kota tempatku melalui sebagian besar masa kecil dan remaja. Rinduku meluap, bagaimana tidak, kota yang pernah kau tinggali hampir sepuluh tahun tentu menyimpan banyak teman dan kenangan. Kau takkan bisa melupakannya begitu cepat.

Kota Medan kira-kira terletak 400 km dari Duri, melewati batas provinsi. Kenyataan bahwa aku akan lebih dekat ke kota itu mengobati gundah di hati. Terbayang sudah perumahan tempatku tinggal dulu dengan rimbun pepohonannya serta orang-orang yang sudah akrab denganku, teman-teman lama, dan sekolah-sekolahku dulu.

Aku segera menyusun rencana,
Aku mulai rajin mencari kota-kota yang mungkin kulalui di Google Earth, di sepanjang jalur utara Sumatera. Bayangan akan perjalanan itu bisa membuatku melupakan masalah yang akan kuhadapi di Duri.

Masih di bulan Syawal, suasana lebaran belum habis betul, pesawatku dari Jakarta berangkat ke Pekanbaru, Riau. Dari Pekanbaru tim kami sudah dijemput oleh mobil kantor untuk selanjutnya mengantar kami ke Duri. Tiga jam perjalanan darat dari Pekanbaru ke Duri.

Siang itu, dalam perjalanan tiga jam aku coba bertanya kepada supir yang mengantarku mengenai perjalanan dari Duri ke Medan.
“Pak, kira-kira habis berapa jam dari Duri ke Medan?”

Antara sepuluh sampai dua belas jam jawabnya.
Dia lalu berkata “Dik, coba lihat truk di depan kita”, ada truk bermuatan entah apa di depan kami,
“Paling sebentar malam truk itu sudah sampai di Medan”
Kuperhatikan truk itu berpelat BK, terlonjak senang hatiku melihatnya.

Kurang lebih tiga minggu sudah aku di Duri, melalui waktu dengan pekerjaan yang tak kunjung habis. Kepergianku ke Medan hanya mungkin kulakukan di sela pekerjaanku, ketika akhir pekan. Aku menetapkan bahwa akhir minggu itu aku harus ke Medan atau tidak sama sekali, karena pekerjaan yang lebih banyak bakal menyita waktu pada minggu-minggu berikutnya.

Malam itu kubersiap, walau hujan, niat takkan surut untuk tersambungnya kembali silaturahim. Ke Medan dengan bus klas ekonomi, aku berharap dapat sampai dengan selamat ke kota itu pagi harinya.
Beberapa teman kantorku tampak tidak percaya, pikirnya rencanaku ke Medan hanya bualan,
“Kamu serius mau ke Medan?!”

Perjalanan dua kali dua belas jam hanya untuk kunjungan dua hari bukanlah suatu yang lumrah, tapi itulah niat.
Dengan mengucap Bismillah, malam itu aku bergegas, dari Duri ke masa lalu.

Bus melaju diantara rintik hujan yang mengguyur, bermanuver berkelok naik turun menembus hutan, rawa dan perkebunan. Lubang sebesar kubangan kerbau di jalan serta jembatan yang rusak terkadang menghentikan laju kendaraan.
Menikung tajam, menyalip, berhenti mendadak kemudian melaju kencang, seakan irama maut yang dinyanyikan sang supir di belakang kemudinya. Maut terkadang hanya berjarak beberapa sentimeter dari pundak sang supir, terkadang pula hanya terlambat beberapa detik di belakang kami. Penumpang hanya bisa pasrah dan tawakal…

Perjalanan itu melewati beberapa kota kecil maupun kota kabupaten. Kota Pinang, Aeknopan, Aeknabara, Kisaran, Limapuluh,Tebing Tinggi, Lubuk Pakam, dan Tanjung Morawa sebelum akhirnya memasuki kota Medan.

Setiap memasuki sebuah kota kadang aku terjaga dan melihat nama jalan yang sama di setiap kota, jalan Sudirman. Mungkin nama sang jenderal besar itu menjadi nama paling populer untuk jalan di kota-kota Indonesia. Semoga Allah menerima segala amal sholih sang jenderal…

Paginya, setelah dua belas jam terguncang di bus, atas izin Allah aku menapak kembali kota Medan di terminal Ampelas. Kota medan menjadi jauh lebih ramai. Angkot-angkot dengan berbagai nomer trayek berseliweran di depan terminal. Aku melihat sebuah angkot yang tidak asing lagi, tanpa banyak babibu aku langsung naik dan cukup yakin kemana angkot itu akan mengantarku.

Sebelum perjalananku ke Medan, aku sempat mengabarkan rencana ini ke ayahku di Jogja. Beliau lalu meminta kesanggupan temannya untuk menyediakan sebuah kamar di wisma di perumahanku yang dulu. Maklumlah perumahan dinas. Aku juga sudah mengenal teman kantor ayahku itu yang notabene juga tetanggaku dulu.

Jalan menuju perumahan aku lalui setelah turun dari angkot. Rasanya setengah bermimpi melalui jalan ini lagi.
Jalan lebar yang sepi.
Terakhir kulalui ketika masih berseragam putih abu-abu satu sma. Perumahan tetap asri seperti dulu, jajaran pohon cemara raksasa sudah menjadi ikon dari perumahan ini. Aku berjalan begitu pelan menikmati tiap langkahku. Kupikir adikku pasti iri mengetahuiku bisa berada di sini, karena diapun begitu merindukan Medan.

Aku bertemu teman lamaku dulu, dia penunggu terakhir perumahan dari generasiku. Awalnya aku bertemu ibunya. Setelah ibunya tersadar dan mengenali aku (maklum aku sudah banyak berubah bentuk) dia langsung berteriak memanggil anaknya yang masih berada dalam kamar
“IAAAAAAANNNN!!!!….”,
Cara memanggilnya tidak berubah sama sekali seakan temanku itu masih bocah kemarin sore, padahal usianya lebih tua dua tahun dariku.

Hari itu terisi dengan rasa bahagia bertemu teman-teman lama. Banyak ternyata yang hampir tidak dapat kukenali. Anak-anak kecil yang dulu telah menjadi remaja, yang remaja menjadi dewasa, yang dewasa menjadi renta…

Berangkat dari Duri Jum’at malam, sampai di Medan Sabtu pagi, masih ada dua hari satu malam untuk menikmati kota Medan. Pada jam-jam yang singkat itu aku masih diberi Allah kekuatan untuk bersilaturahmi dengan teman-teman lamaku sepermainan di perumahan maupun di sekolah, mengitari kota, mengunjungi sekolah yang sayangnya sedang tutup, menraktir dan ditraktir teman, semuanya dalam 36 jam.

Minggu sore aku berangkat kembali ke Duri, walau hati ini sebetulnya belum puas berada di Medan. Teman-teman mengantarku ke terminal Ampelas setelah sebelumnya membeli bika ambon untuk orang-orang kantor.

Kembali lagi aku menaiki bus, melewati kota-kota yang sama dan jalan-jalan Sudirman.

Menuju kembali ke Duri, ke “realitas”, tempat pekerjaan menungguku…

Ada kejadian yang agak mengkhawatirkan (kalau tidak dibilang menakutkan) ketika menaiki bus kembali ke Duri. Ketika belum terlalu jauh meninggalkan kota Medan, hari sudah mulai gelap, aku melihat di jendela sebuah motor “merayap” menaiki bus yang aku tumpangi, tepat disampingku. Pemandangan yang surreal… Ternyata awak bus mengangkut sepeda motor ke atas bus.”Ya Allah, apalagi ini…” pikirku.
Iklan

~ oleh Fikri Faris pada 28 Juli 2008.

8 Tanggapan to “Dari Duri ke Masa Lalu… (bagian 2, selesai)”

  1. Endingnya ngeri… ^^
    Btw, eniwe, buswe…ada bagian 3-nya ga?

  2. @rum: ngga ada jeung, sekian dan terima kasih…hihi

  3. Oh begitu…kirain ada lagi ttg perjalanan dg motor di atas kepala…hihihihi…

  4. *mengacungkan jari*

    (tebak aja jari yang mana)

  5. @ame: wew, jari jempol! makasi makasi ;P

  6. pemandangan sureal tuh apa yah ? @_@ wah ngeri juga motor tetep bisa nanjak dalam keadaan tegak lurus keatas hiy ngeri 8-x

  7. @nad: surreal=bizarre/dreamlike things, ntu motor dikerek pake tali ke atas bus ;P

  8. :)):)) kirain yg ngendarain ngegas tinggi2 smpe bhasil. ah, ada2 aja. ;P

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: