Lost in Bandung

picked from bandung[dot]blogspot[dot]comPengalaman tahun lalu, ditulis supaya tetap ingat…

Sudah dua minggu di Jakarta, setelah nyaris dua bulan berpetualang di Duri. Paru-paru ini sudah mulai terisi kembali dengan gas karbondioksida dan metan dengan kadar yang jauh lebih tinggi. Mata mulai beradaptasi kembali dengan gemerlap cahaya kota di malam hari, gedung-gedung tinggi, dan comberan.
Sampah yang mengapung di selokan seakan menyapa “Welcome back in da town, fellow!”
Yah, sudah resmi lagi jadi organisme di ekosistem Jakarta, kota metropolutan. Seperti ikan lele balik ke kubangan.
Kembali ke Jakarta dengan pe’er yang jauh lebih banyak. Dijamin kagak ade matinye dah…

Akhir pekan itu saya coba lari ke Bandung… Sudah lama tak bersua dengan paman, bibi dan sepupu-sepupu. Niatnya sih ingin bikin surprise, jadi berencana tidak memberi kabar kedatangan kepada mereka. Mereka pikir saya masih di Sumatera.

Sejarahnya, beberapa kali ke kota itu selalu naik bus jurusan Garut atau Tasikmalaya, turun secara ilegal di km 138 tol Cipularang, jalan 15 menit sampai rumah bibi. Cepat, praktis dan bersalah. Sempat ditegur paman soal kebiasaanku itu,
“Wah, melanggar itu namanya!”
membuatku berat untuk melegalkannya lagi.
Ditambah lagi emblem muslim tersemat di dada, jadi ingat sebuah hadist yang menjelaskan bahwa setiap muslim harus memenuhi syarat (baca: mematuhi peraturan)…
Mulai saat itu ke Bandung selalu naik bus jurusan Bandung, turun di terminal Leuwipanjang, walaupun masih harus berganti-ganti angkot dan ngojek menuju rumah bibi. Duh, memenuhi peraturan juga harus dengan sabar.

Ke Bandung dengan cara halal yang lain jadi rencana akhir pekan itu. Kebetulan ada teman yang ingin ke sana menggunakan jasa travel yang ada di dekat kantor, pake harga promo pula. Hanya saja travel itu berhenti di Cihampelas tempat poll-nya berada.
Berhubung saya adalah makhluk Jogja (legally), yang saya ketahui soal jalan-jalan Bandung hanya sebatas “tol cipularang”, “km 138”, “leuwipanjang”, ”ciwastra”, “samsat”, “angkut no.5 merah”, dan “GBI”. Semua kosa kata yang bisa mengantar saya ke depan rumah bibi.
Nama “Cihampelas” belum masuk di kamus, jadi agak ragu untuk turun disana.
“Ah, gampang, ntar kamu naik angkot ini itu”, temanku memprovokasi.
“Halah, wong lanang kok…”, diriku juga memprovokasi.
Provokasi mereka berhasil.

Singkat cerita, sampailah di Cihampelas jam 10 malam setelah berkutat dengan week end jam ibukota. Tanpa jaket, udara kota bandung malam hari bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Setelah tanya kanan kiri soal angkot yang harus dinaiki, sadarlah saya betapa jarak Cihampelas ke Ciwastra tempat bibi ternyata cukup jauh, harus ganti angkot tiga kali plus ngojek.
Angkot pertama, lancar, sampai ke Kalapa. Setelah itu bingung, dari informasi yang kudapat dan kenyataan yang kuhadapi kok berbeda…huff. Tanya lagi. Naik angkot lagi dengan was-was. Jalan-jalan yang dilewati terlihat asing. Turun lagi. Dan berakhir dengan satu kesimpulan: tersesat.

Jam 11 malam, beberapa trayek angkot sudah tidak beroperasi. Sudah tidak ada gunanya mencoba lagi. Uang ngga cukup naik taksi. Status tetap: tersesat.
Orang jogja ini terdampar di Bandung, malam hari, kedinginan tanpa jaket, dan ternyata juga kelaparan…T_T.
Kalau keadaan sudah begini tahulah saya, siapa yang harus saya ganggu. Saya menghubungi sebuah nomor di phonebook, sepupuku. Setelah ngobrol basa-basi dan coba menyembunyikan keadaan sebenarnya, akhirnya saya mengaku butuh pertolongannya.
“Kak, jemput dong. Aku di Bandung nih, tersesat…”
“Ya ampun, dari tadi ngobrol kukira masih di Riau! Ya udah, biar kujemput. Kamu dimana?”
“Aku di Jalan Pelajar Pejuang 45, depan hotel Horizon. Bawain jaket juga ya! Hihi, Trims kak!”

Masalah saya bakal selesai. Soal kedinginan masih bisa dikompromikan sampai sepupuku datang bawa jaket. Hanya ada satu masalah darurat yang tidak minta kompromi: Lapar. Masalah yang satu ini cuma makanan yang bisa selesaikan. Tidak bisa ditunda-tunda. Selagi jemputan belum datang, saya mulai clingak-clinguk mondar mandir sepanjang jalan cari makanan. Akhirnya ketemu warung yang menclok di pinggir jalan, masih buka walaupun sudah tidak ada pelanggan. Masalahnya, warung itu cuma jual satu menu:
yumm
Bubur ayam.

Flashback:
Ibuku pernah bilang “Kamu itu dulu waktu kecil kalo lihat adikmu makan bubur aja udah mau muntah…, ”.
Nasehat Ibu di waktu yang lain “Kamu itu ga boleh sentimen sama bubur, nanti kalo kamu sakit dan hanya boleh makan bubur gimana?”

Hwaaa! Kenapa ketika keadaan seperti ini, hanya menu itu yang ada…!
tapi lambung mulai protes dengan seleraku.
“Sudahlah Fik, kalo ngga bisa nikmatin masuknya, nikmatin aja keluarnya…”

Akhirnya,..

“A’, bubur ayam satu, yang biasa aja, ama air anget”. Bubur ayam terhidang, lengkap dengan kerupuk, cakwe dan potongan ayam tentunya.
Awalnya agak canggung pada suapan pertama, tapi mantap pada suapan berikutnya.

Resmilah saya, malam itu, menjadi penikmat bubur sejati. Lapar, kedinginan, di depan bubur ayam yang hangat ngepul-ngepul. Hasil konspirasi antara rasa lapar dan udara dingin sudah mengubah selera. Idealisme dikalahkan oleh perut yang keroncongan. REVOLUSI!
Mulai saat itu sampai sekarang segala jenis bubur dapat akses ke lambung… ^ ^
mau bubur ayam, bubur jagung, bubur manado, dan segala jenisnya,… hajar!

Selesai makan, seketika itu juga sepupuku datang menjemput dengan sepeda motor. Dalam perjalanan dia bilang:
“Fik, kamu tau ngga, besok pagi orang satu rumah mau ke Jakarta?”…
“APA?!”
*gubrak!*

Apes dah! *_*

Moral:
1. Berbuat baik juga butuh kesabaran.
2. Supir angkot juga butuh tidur.
3. Ke Bandung jangan lupa bawa jaket.
4. Don’t judge the food by its appearance.
5. Sebelum berkunjung ke rumah seseorang buatlah janji. Bikin surprise bukan ide yang baik…

Iklan

~ oleh Fikri Faris pada 4 Agustus 2008.

8 Tanggapan to “Lost in Bandung”

  1. “Sudahlah Fik, kalo ngga bisa nikmatin masuknya, nikmatin aja keluarnya…” -> ok jg ni kata2nya…catet!

  2. bandung tea… 😀

    klo cirebon gmn fik, kayake kontras bgt dibandingkan bandung

  3. @rum: silahken catet, wise words tuh…
    @her: cirebon gerah pisan eui! sayang waktu ksana ga sempet nyobain sega jamblang yang aseli…T_T

  4. hehe…critanya lucu…ak ke Cilaki, minum yoghurt.

    ke ciwalk…trus ke rumah saudara…

    ke mana lagi ya???

  5. …Sejarahnya, beberapa kali ke kota itu selalu naik bus jurusan Garut atau Tasikmalaya, turun secara ilegal di km 138 tol Cipularang, jalan 15 menit sampai rumah bibi. Cepat, praktis dan bersalah. Sempat ditegur paman soal kebiasaanku itu,
    “Wah, melanggar itu namanya!”
    membuatku berat untuk melegalkannya lagi…

    Ee… pernah legal tho, dulunya ❓

    Ng, critanya gara-gara laper gak tertahankan jadinya doyan. Ini mah “apa boleh buat, Nasir sudah menjadi tukang bubur”… jadi ya, dilahap saja… 😀

  6. i love bandung so much…

    hhh..kapan sy bs ke bandung lg…

    jd inget tulisan sy yg ttg bandung…

    http://afraafifah.wordpress.com/2008/08/14/bandungku-sayang/

    😥 😥 😥

  7. Hehehe… “mengena”.

  8. @hyo san: hehe, ayo kapan kita legalkan lagi (kita?)
    @afra: sabar ya sis (lihat moral #1)
    @sausan Bunga Teratai: “mengena”? kena apanya? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: