La Cucaracha: The Movie

diambil dari etc.usf.eduStarring: me as myself and introducing: the band of roaches

Maret 2008

Sore itu menjelang maghrib, saya berjalan pulang dari kantor menuju kos. Melewati jalan-jalan sempit mampang prapatan. Dapat pulang sebelum maghrib adalah suatu anugerah.

Sekitar seratus meter sebelum mencapai kos, seekor kecoak menyeberangi jalan tergesa-gesa.

Kecoak di lingkungan kotor itu hal biasa. Perjalanan diteruskan.

Beberapa langkah kemudian seorang anak yang berjalan di depanku berteriak kepada ibunya sambil menunjuk jalan:

“Mak, ada kecoak!” sambil mencoba menginjak kecoak malang itu.

“Kecoak lagi?” pikirku.

Belum lagi dia berhasil menginjak kecoak itu, muncul lagi kecoak yang lain di jalan. Anak itu mengejar kecoak yang ketiga dengan kesetanan sambil mencopot sendal hendak menimpuknya.

Akhirnya anak itu sendiri menjadi heran, begitu juga saya. Kini sudah belasan kecoak kami lihat.

(horror movie sound effect: slow)

Terlalu banyak kecoak yang ada di jalan untuk dihajar membuat anak itu bingung. Dia pun menyerah setelah ibunya memanggilnya.

Makhluk introvert seperti kecoak tidak biasanya berkeliaran di jalan umum. Ganjil.

Kepadatan kecoak terus bertambah seiring dengan langkah menuju kos. Dari belasan jadi puluhan. Mereka menginvasi di jalan, pagar, dan sekitar selokan. Sinar matahari yang redup membuat suasana menjadi lebih sureal.

(horror movie sound effect: louder)

Sampailah saya di depan kos. Segera membuka pintu pagar sambil keheranan lihat kecoak bertebaran di jalan. Kebanyakan dari mereka terlihat pasif, gerak mereka sudah tidak enerjik.

Saya segera saja masuk ke teras kos. Agak gelap. Si empunya kos belum menyalakan lampu.

Terlihat di teras banyak (yang saya kira) daun mengotori lantai. Setelah mata ini terbiasa kegelapan, “daun-daun” itu terlihat bergerak-gerak.

Saya hanya bisa terdiam…menyadari bahwa setengah dari luas lantai teras tertutupi oleh ratusan kecoak.

(horror movie sound effect: emphasis/loud)

Saling tindih, saling injak.

Ada yang terlentang, ada yang merayap.

(Camera: extreme close-up to the cockroaches)

(Monstrous shrieking sound effect)

Kengerian sore itu membuat saya menghambur kembali ke jalan.

Berdiri di tengah pertigaan, saya melihat jalan yang ada di timur, utara dan selatan.

(camera: rotating around me)

(horror movie sound effect: emphasis/loud)

Pemandangan yang sama. Ratusan kecoak menutupi jalan.

(camera: extreme close-up to cockroaches)

Cockroaches taking over the world!

“apa yang terjadi?”

Apa ini gejala alam luar biasa? Apakah pertanda akan ada banjir besar datang? Gempa bumi? Patahan di bawah Jakarta aktif lagi sehingga mengeluarkan gas sulfur yang membuat kecoak-kecoak itu keluar sarang dengan keadaan mabuk? Apakah akan ada gunung berapi baru tumbuh di Jakarta? Atau lumpur lapindo versi Jakarta?

Semua imajinasi konyol muncul di otak.

Apapun penyebabnya, yang harus saya lakukan cuma satu, mengenyahkan kecoak-kecoak itu dari teras kos.

Bagaimana dengan kamar kos? Agak ngeri membayangkan kalau mereka bisa masuk kamar kos dan meniduri ranjang. Segera saya membuka pintu kamar pelan-pelan. Menyalakan lampu.

Kamar kos terlihat seperti biasanya, berantakan, dan untungnya tanpa kecoak…

Sore itu saya melakukan pekerjaan yang sangat tidak umum, menyapu ratusan kecoak. Bukan pengalaman yang bisa diceritakan banyak orang. Untungnya kecoak-kecoak itu sudah sekarat, hanya beberapa yang masih bisa merayap.

Malamnya, sebelum tidur, dalam hati masih bertanya-tanya tentang apa yang terjadi hari itu. Alasan yang cukup logis adalah seputar insektisida.

Pagi harinya kembali lagi dengan rutinitas. Berangkat kerja, kejadian kemarin sore saya tinggal di belakang. Hanya bau tengik dari bangkai-bangkai kecoak yang membuat saya kembali bertanya,

“apa yang sebenarnya terjadi?”

Wallahu’alam…

(camera: extreme close-up to cockroaches)

The End…

Note:
The script is written based on true story. There is animals (cockroaches) abuse and harsh occurred in this script since there is no PETA recommendation needed. ^_^
Iklan

~ oleh Fikri Faris pada 8 Agustus 2008.

5 Tanggapan to “La Cucaracha: The Movie”

  1. Hee…aq paling jijay niy ma kecoak… 😦

  2. “apa yang sebenarnya terjadi?”

    kecoanya lg kampanye fik,,, 😆

  3. …Makhluk introvert seperti kecoak tidak biasanya berkeliaran di jalan umum. Ganjil….

    Wah, introvert… Nyindir saya nih 😈
    Soalnya…, I = {kecoak, saya, ekonugroho, …}
    Note: I = Introvert.

    Mas Her, tipenya diawali “i” juga ngga? 😉 Lupa saya… 😀

  4. @melati: hati2 cari kos, jgn di mampang
    @herr: curi start kampanye dong, laporin ke KPU
    @fath:
    wah, ada yang tersinggung nih…hihihi
    aku jg introvert kok, lihat aja…
    yaa masih satu kepribadianlah dengan coro

  5. ckckck…
    bener2 scriptwriter film thriller yang killer :mrgreen:

    oww, thank you.. :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: